Jum`at, 09-02-2018 jam, 10:43:00

Sempat Gagal, tapi Tetap Semangat hingga Jual Motor

Sempat Gagal, tapi Tetap Semangat hingga Jual Motor
Hanya bermodal ilmu yang didapat dari YouTube, Muhamad Sardi secara mandiri membudidayakan madu kelulut di Kabupaten Kotawaringin Barat. //RUSLAN /KALTENG POS

Bagi sebagian masyarakat, nama madu kelulut tentu sudah tidak asing lagi. Cairan kental dengan ciri rasa asam yang khas ini, dipercaya memiliki khasiat sepuluh kali lipat lebih baik dibandingkan dengan madu lebah biasanya. Bahkan harganya di pasaran jauh lebih tinggi dari madu lainnya. Biasanya harga madu kelulut bisa mencapai Rp600 ribu per liter.

RUSLAN, Pangkalan Bun

DI Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), budi daya madu kelulut belum banyak dilirik masyarakat setempat. Selain harus memiliki talenta khusus dalam budi daya lebah, pengetahuan tentang memelihara madu pun masih sangat minim. Yang ada saat ini, untuk mendapatkan madu, masyarakat terbiasa mengambil hasil madu asli dari sarang madu liar di hutan.

Melihat potensi inilah, Muhamad Sardi, warga Jalan Perwira, RT 11, Kelurahan Mendawai, Kobar, nekat banting setir alih profesi untuk budi daya madu kelulut. Meski tidak memiliki keahlian khusus di bidangnya, pria 48 tahun ini percaya diri untuk mengembangkan madu kelulut. Bermodalkan nekat serta ilmu yang didapat melalui YouTube, Sardi mulai menggeluti profesi barunya itu.

"Saya belajar di YouTube, karena di sana lengkap. Tergantung kita saja yang harus jeli dalam mencermati ilmu tersebut," kata Sardi saat disambangi Kalteng Pos di tempat budi daya madu kelulut miliknya di Kawasan Bamban, Pangkalan Bun, Kobar, Kamis (8/2).

Bertempat di Kawasan Bamban, Gang Sintang Sejahtera, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arsel, Kobar, Sardi mulai merintis usahanya. Syarat utama budi daya madu kelulut hanya menggunakan kayu log (batang) tempat lebah bersarang dan memprodusi madu. Caranya, kayu log yang sudah memiliki lubang sarang koloni lebah dilapisi papan rata di atasnya hingga berbentuk meja biliar. Hal ini dimaksudkan untuk menampung koloni lebah, kemudian ditutup plastik sebagai pembatas, agar lebah memproduksi madu di tempat tersebut dan tidak keluar dari sarang yang sudah disiapkan.

Awal memulai usahanya, tidak berjalan mulus. Budi daya madu kelulut yang dirintis Sardi sempat gagal. Tidak bisa dipanen lantaran lebah tidak produktif. Bukannya kapok, Sardi malah menjadikan kegagalan itu sebagai motivasi. Ia justru semakin tertantang untuk kembali meneruskan usaha, meski harus rela menjual motor miliknya untuk dijadikan modal.

"Ini budi daya yang kedua. Yang pertama, lokasinya sudah saya tinggalkan karena tidak produktif. Jenisnya juga berbeda. Yang saat ini saya kembangkan adalah jenis trigona itama  atau kelulut berung. Keunggulannya, tubuh lebih besar dan madu yang dihasilkan juga lebih banyak," jelasnya.

Dari segi perawatan, budi daya madu kelulut sejatinya tidak terlalu sulit. Lebah jenis kelulut tidak membahayakan, karena tidak menyengat. Yang perlu diperhatikan adalah lokasi budi dayanya, harus teduh atau berada di bawah pepohonan, tidak terlalu panas, dan tidak ada angin kencang. Yang paling terpenting adalah ketersediaan produsen makan yang dihasilkan dari pohon berbunga (putik bunga) di sekitarnya.

Begitu pula dengan sarang koloni lebah. Menurut Sardi, jika ingin memulai usaha madu kelulut, tidak harus dengan tempat yang luas dan sarang koloni banyak. Karena yang menentukan saat panen adalah jumlah madu yang didapat dari ketersediaan makan di sekitar lokasi budi daya madu tersebut."Tidak perlu banyak, sarang koloni milik saya yang ada saat ini hanya 30 kotak. Semuanya sudah mulai terisi lebah sejak hari ketiga saya memulai usaha," ungkapnya. (ala/dar/bersambung)